Bapperida NTT Eksekusi Program Melki-Johni Rp100 Juta Per Desa Lewat Gerakan ‘One Village One Product
KUPANG, PEREMPUANCENDANA || Angin optimisme baru berembus di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah Provinsi NTT resmi mengeksekusi program intervensi langsung ke tingkat desa/kelurahan, sebuah wujud nyata komitmen pemerintahan Gubernur NTT Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur Johny Asadoma dalam mengentaskan kemiskinan dan membangun kemandirian ekonomi dari bawah.
Membawa spirit One Village One Product (OVOP), Pemprov NTT menggelontorkan anggaran sebesar Rp100 juta per desa/kelurahan untuk menggerakkan mesin ekonomi langsung dari tangan masyarakat.
*120 Desa Dampingan di Tahap Pertama*
Gubernur NTT Melki Laka Lena memaparkan desain besar di balik program terobosan ini. Ia menjelaskan bahwa Pemprov NTT saat ini secara strategis menjalankan program bantuan sekitar Rp100 juta per desa, yang difokuskan bagi desa-desa yang dinilai memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Bantuan tersebut tidak diberikan secara sembarangan, melainkan dirancang agar berputar menjadi modal produktif dalam bentuk pelatihan, pendampingan intensif, penyediaan alat produksi, hingga pembukaan akses pemasaran.
Guna memastikan program ini berjalan efektif, Gubernur Melki mewajibkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemprov NTT untuk turun gunung. Setiap OPD diwajibkan memiliki wilayah binaan atau "desa dampingan" sebagai bagian dari program percepatan pembangunan desa.
"Setiap OPD kami minta punya desa dampingan. Tahap pertama ada sekitar 120 desa yang dibantu. Kita ingin perubahan ekonomi benar-benar bergerak dari desa," tegas Gubernur Melki Laka Lena.
*Tiga Hari di Manulai 2*
Implementasi nyata dari arahan Gubernur tersebut langsung dieksekusi oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi NTT di Kelurahan Manulai 2, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Selama tiga hari berturut-turut (15-17 Juli 2026), Bapperida melakukan intervensi komprehensif:
Mewakili Gubernur, Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Yohanes Oktavianus, membuka acara dengan pesan tegas bahwa geliat ekonomi harus dimulai dari lorong-lorong kelurahan untuk memukul mundur angka kemiskinan.
Hari Pertama: Inklusi dan Pemberdayaan. Bapperida menginisiasi Musrenbang Tematik Kelompok Rentan (Musik Keren), memastikan perlindungan sosial kelompok rentan terakomodasi. Hari itu ditutup dengan pelatihan intensif bagi 'jantung' ekonomi keluarga NTT: mama-mama penenun.
Hari Kedua: Lompatan Digital dan Proteksi. Warga dibekali senjata bersaing di era modern melalui sosialisasi standardisasi pemasaran digital. Pelaku UMKM tenun, kerupuk singkong, dan pisang disiapkan untuk menembus pasar luas. Negara juga hadir memberikan jaminan perlindungan pekerja melalui BPJS Ketenagakerjaan dan mitigasi Desa Tangguh Bencana.
Hari Ketiga: Selebrasi Budaya dan Penyerahan Modal Kerja. Sebelum acara puncak, pada pagi harinya diawali dengan senam sehat bersama masyarakat, pemeriksaan kesehatan gratis, dan pendampingan pelayanan identitas kependudukan digital. Puncak acara dimeriahkan oleh parade budaya memukau dari mama-mama penenun. Semangat warga menyala saat menerima bantuan alat tenun, alat masak, dan mesin jahit dari Bapperida.
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Astiningsih Laka Lena, yang hadir menyerahkan bantuan secara langsung, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
"Pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan perhatian yang besar dan tulus dari saya dan Bapak Gubernur NTT terhadap para perempuan, mama-mama penenun, dan pelaku usaha kecil untuk meningkatkan kualitas hidup, membantu kehidupan ekonomi di tingkat keluarga," ujarnya.
Menutup kegiatan di Manulai 2, Plt. Kepala Bapperida Provinsi NTT, Theresia Florensia, SE.,M.Ec.Dev, menegaskan komitmen keberlanjutan program ini.
"Setiap perangkat daerah berperan langsung mengintervensi desa di kabupaten/kota yang telah ditentukan. Pendekatan ini memerlukan kolaborasi erat agar dampaknya terus dimonitor dan dievaluasi selanjutnya," jelasnya.
Related Articles