Wali Kota Kupang Promosikan Budaya Rote di Rakernas APEKSI, Tegaskan Keberagaman Sebagai Kekuatan Kota Jasa

Ekonomi 06 Jul 2026 07:58 3 min read 72 views By Chrispina

Share berita ini

Wali Kota Kupang Promosikan Budaya Rote di Rakernas APEKSI, Tegaskan Keberagaman Sebagai Kekuatan Kota Jasa
PEREMPUANCENDANA || Medan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memanfaatkan momentum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota...

PEREMPUANCENDANA || Medan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memanfaatkan momentum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Kota Medan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur, khususnya budaya Rote, sebagai bagian dari identitas Kota Kupang yang majemuk.

 

Dalam Karnaval Budaya Nusantara yang digelar Kamis (2/7/2026) malam, Wali Kota bersama Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Kupang, para kepala perangkat daerah, dan kontingen Kota Kupang tampil mengenakan busana adat Rote. Kehadiran maskot Sepe, ikon Kota Kupang, turut mencuri perhatian masyarakat yang memadati lokasi karnaval.

 

Di hadapan ribuan peserta dan tamu undangan, Wali Kota menyerahkan cendera mata berupa topi Ti'i Langga khas Rote kepada Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, serta Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Sementara kain tenun khas Rote diserahkan kepada istri Wali Kota Medan dan Ketua APEKSI.

 

Menurut Christian Widodo, dipilihnya budaya Rote sebagai representasi Kota Kupang mencerminkan keberagaman masyarakat yang hidup berdampingan di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 

"Kota Kupang adalah kota yang majemuk. Warga kami berasal dari berbagai latar belakang budaya dan etnis yang hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan. Pada kesempatan ini kami memilih mempromosikan budaya Rote sebagai representasi dari kekayaan budaya yang hidup dan berkembang di Kota Kupang," ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa keberagaman budaya tidak hanya menjadi warisan yang harus dijaga, tetapi juga merupakan modal penting dalam mendukung pembangunan daerah, terutama bagi Kota Kupang yang berkembang sebagai kota jasa.

 

"Bagi Kota Kupang yang bertumpu pada sektor jasa, budaya memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata sekaligus memperkuat citra daerah," katanya.

 

Komitmen tersebut, lanjutnya, telah diwujudkan melalui penyelenggaraan Karnaval Budaya pada peringatan HUT ke-140 Kota Kupang dan Hari Jadi ke-30 sebagai daerah otonom. Untuk pertama kalinya, seluruh etnis yang hidup di Kota Kupang dilibatkan dalam satu panggung kebersamaan.

 

Menurut Wali Kota, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut menjadi alasan Pemerintah Kota Kupang berkomitmen menjadikan Karnaval Budaya sebagai agenda tahunan guna memperkuat persatuan sekaligus mempromosikan kekayaan budaya daerah.

 

Keikutsertaan Kota Kupang dalam Karnaval Budaya Nusantara merupakan bagian dari rangkaian Rakernas XVIII APEKSI 2026 yang mengusung tema "Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat." Selain mempererat kerja sama antarpemerintah kota, kegiatan tersebut menjadi ajang promosi potensi investasi, UMKM, pariwisata, dan kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia.

 

Pada penutupan Rakernas, APEKSI menghasilkan sepuluh rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia. Rekomendasi tersebut meliputi penguatan kapasitas fiskal daerah, percepatan pembangunan infrastruktur, transformasi digital pemerintahan, penguatan ekonomi lokal, hingga pembangunan kota yang berkelanjutan

.

Langkah Wali Kota Kupang mempromosikan budaya Rote juga mendapat apresiasi dari diaspora NTT di Kota Medan. Ketua Pascasarjana Sekolah Tinggi St. Paul Simalingkar Medan, Dr. Adolfina Elisabeth Koamesakh, MH., M.Th., melalui media sosial mengunggah foto Wali Kota mengenakan busana adat Rote dengan takarir, "To'o huk abunae. Malole ta malole, Kota Kupang le malole."

 

Perempuan Cendana